Jumat, 07 Juni 2013

Zaman (memang) Sudah Berubah

Benar kata orang bijak. semauanya berubah kecuali satu yang tidak berubah, yaitu peubahan itu sendiri. Artinya perubahan itu akan tetap pada perannya terjadi perubahan. Waduh malah jadi pusing khan...? Perasaan kayak baru kemarin kita sekolah di SD, SMP, SMA terus Kuliah, menikah, merantau ke kota kemudian punya anak...tapi setelah dipikir pikir ternyata realitas kehidupan yang kita hadapi mengalami perubahan yang luas biasa cepat mungkin lebih tepat terjadi loncatan. Betapa suasana masa sekolah zaman kita dengan sekarang sudah jauh berbeda suasananya. Kalau kita bernostalgia dengan masa lalu persaan kayak hidup di zaman apa...gitu. apalagi kalau kita ceritakan kepada anak kita saja...anak kita melongo seolah nggak percaya, kalau pengalaman kita itu riil,benar-benar terjadi.misal kalau kita cerita pernah mencarai ikan dengan mudah di kali, bahkan menangkap udang hampir di bali batu yang ada dikali, mereka bengong, nggak bisa membayangkan kali ya...karena kenyataan sebenarnya yang selama ini di hadapi membuat anak gak bisa berpikir logis. Masa sungai yang keruh banyak sampah ada ikannya.... cerita lagi kalau saat bulan haji menjelang idul qurban. anak-anak kita begitu exciting, merupakan pengalaman yang luar biasa ketika di lapangan masjidnya ada sapi dan kambing...seolah binatang yang mau diqurbankan itu binatang langka banget. mungkin sama kali ya waktu kita pertama bermain ke taman safari atau kebun binatang melihat binatang liar yang biasa di hutan ditaruh di kandang. Jangankan anak-anak kita yang mungkin jarang diajak jalan-jalan ke kampung, kita saja yang kalau pulang kampung dan memperhatikan suasana, merasakan aura kampung memang sudah sangat berbeda dengan suasana waktu kita menghabiskan masa anak-anak hingga remaja. Saya nggak mau membahas penyebab cepatnya perubahan itu. Mungkin akan panjang kalau kita membahas aspek perubahan itu, bahkan nggak ada ayiknya. tapi saya tertarik untuk menyelami, menjelajahi, blusukan, jajah desa milang kori dan bernotalgia dengan kata, istilah, kebiasaan, adat, tetek bengek, suasana yang dulu "gue banget", kampung banget, karena sekarang....sudah ada yang hilang, sudah ditinggalkan, sudah diganti, sudah kembang kempis, sudah...sudah...sudah.... (bersambung)

Jumat, 31 Mei 2013

Mengapa Belajar Fisika di SMP dianggap syulit (sulit banget)?

Mungkin ini hanya akumulasi pengalaman selama mengajar fisika di SMP, terutama klas 7. Disadari memang, anak klas 7 adalah pertama kali belajar Fisika yang sebetulnya adalah bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sudah dipelajari di tingkat SD. Yang paling dianggap baru bagi anak kelas 7 adalah penggunaan matematika untuk dalam belajar fisika khususnya bab yang melibatkan rumusan hukum alam yang disederhanakan oleh simbol-simbol yang lebih termemori sebagai rumus. Sehingga kemudian kesan utama belajar fisika adalah belajar banyak rumus. Permasalahan lain yang cukup penting adalah bagi sebagian anak yang agak bermasalah dengan ketrampilan menghitung atau dengan istilah lain kemampuan matematikanya jeblok. Ini akan menambah kesan makin sulitnya belajar fisika. Kalau boleh berdalih atau lebih tepat berkilah sebagai guru fisika....ya...kalau mau lebih mudah belajar fisika memang harus di perbaiki ketrampilan matematika, sekali lagi digunakan istilah ketrampilan matematika, karena di fisika tingkat SMP justru yang diperlukan adalah ketrampilan menghitung aljabar yang sangat sederhana. Sebut saja penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian adalah ketrampilan dasar yang harus sudah trampil waktu di tingkat SD. Sebab ada korelasi yang cukup signifikan hubungan antara ketrampilan matematika dengan kemampuan belajar fisika. Solusinya adalah terus mengasah ketrampilan matematika secara terus menerus dan tidak boleh berhenti. Toh, belajar matematika dan belajar fisika sesuai dengan kurikulum di negara kita dipelajari hingga SMA. Artinya siswa akan dipaksa belajar hingga SMA. apalagi kalau kuliahnya di jurusan IPA, belajar fisika minimal sampai tingkat 1. Dari pada merasa terpaksa belajar fisika selama di SMP apalagi di SMA, mending asah terus ketrampilan matematikanya, insyaallah akan banyak membantu. apalagi sekarang banyak metode yang mempermudah belajar ketrampilan menghitung. Misalnya metode Kumon, jarimatika, sempoa dan lain-lain. Berikutnya ada kesan yang kurang mengenakan bahkan negatif yang selama ini di bangun yaitu kalau maksain belajar fisika atau pelajaran eksak, ntar rambutnya keriting kayak Einstein, atau entar kepalanya berasap, cepat ubanan dan sebagainya. Kenapa Eistein yang dibawa-bawa? Apa karena foto Einstein yang selalu beredar adala foto yang memang belum sisiran lalu selalu disandingkan dengan rumus dia yang sangat terkenal E = m x c kuadrat? Coba yang dipasang foto dia yang sedang pakai jas perlente dan rambutnya yang disisir rapi....Padahal kalau pun toh kita harus hapalin rumus-rumus fisika itu dengan dengan berbagai teknik dan gaya menghapal, otak kita mempunyai kapasitas memori yang luar biasa hebatnya. Jadi menghapal ilmu bukan sesuatu aib sehingga harus dihindari. Para ilmuan zaman dulu, biasa menghapal buku-buku pengetahuan, menghapal Al Qur an, hafal kitab hadits.